BNPB Bekali Siswa Baru SMA LIA dengan Edukasi Kesiapsiagaan Bencana pada MPLS 2026

   

SMA LIA menghadirkan pembekalan istimewa dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan dasar kepada peserta didik baru agar mampu mengenali risiko bencana serta bertindak tepat dalam situasi darurat.

Materi disampaikan oleh Dr. Kheriawan, M.M., Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana (Kapusdiklat PB) BNPB, yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan penanganan kebencanaan di Indonesia maupun internasional.

Dalam paparannya, Dr. Kheriawan menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik dunia serta memiliki kondisi geografis yang memicu berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, kekeringan, dan angin kencang. Bahkan, hampir 90% bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, sedangkan sekitar 10% merupakan bencana geologi, seperti gempa bumi dan letusan gunung api.

Tidak hanya membahas teori, narasumber juga mengajak siswa memahami pentingnya budaya sadar bencana melalui konsep mitigasi, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana. Siswa dikenalkan pada siklus penanggulangan bencana, mulai dari tahap pra-bencana, tanggap darurat, hingga pascabencana, yang menekankan bahwa kesiapan sebelum bencana merupakan langkah paling efektif untuk mengurangi risiko dan menyelamatkan lebih banyak jiwa.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi di dalam gedung. Melalui demonstrasi langsung, siswa mempraktikkan teknik melindungi diri dengan prinsip “Drop, Cover, and Hold On”, yaitu segera berlindung di bawah meja atau benda kokoh sambil melindungi kepala dan tetap bertahan hingga guncangan berhenti. Simulasi ini memberikan pengalaman nyata kepada peserta mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Kheriawan juga menegaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang kuat untuk menciptakan lingkungan yang tangguh terhadap bencana. Pendekatan berbasis risiko, respons cepat, serta pemulihan berkelanjutan menjadi fondasi utama dalam sistem penanggulangan bencana nasional.

Kegiatan ini selaras dengan komitmen SMA LIA dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pembekalan mengenai kebencanaan menjadi salah satu bekal penting agar siswa mampu menjaga keselamatan diri, membantu sesama, serta menjadi generasi yang tangguh dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta didik baru SMA LIA memahami bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan budaya yang perlu dibangun sejak dini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.